Juuone, DailySpot – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pekan ini dengan tren negatif. Berdasarkan data perdagangan terbaru, IHSG ditutup di level 7.097,06, mengalami koreksi sebesar -0,94% atau terpangkas 67,03 poin. Pergerakan ini sekaligus menandai volatilitas tinggi yang terjadi sepanjang minggu terakhir Maret 2026.
Sempat Optimis, Namun Gagal Bertahan
Awal pekan ini sebenarnya dibuka dengan nada optimis. Pada perdagangan tanggal 25 Maret, pasar sempat menunjukkan taji dengan penguatan yang menjanjikan. Namun, euforia tersebut hanya bertahan singkat. Memasuki tanggal 26 hingga penutupan di tanggal 27 Maret, tekanan jual mulai mendominasi pasar, memaksa indeks kembali merosot di bawah level psikologis 7.100.
Sepanjang hari perdagangan terakhir, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 7.154,56, namun tekanan yang masif membuatnya melandai hingga ke titik terendah (LOD) di 7.070,21.
Sektor Perbankan "Big Caps" Berguguran
Penyebab utama terseretnya IHSG ke zona merah adalah rontoknya harga saham-saham berkapitalisasi besar (Blue Chip). Beberapa saham perbankan raksasa terpantau terkoreksi cukup dalam:
- BBCA (Bank Central Asia): Rp6.700 (Turun -2,55%)
- BBNI (Bank Negara Indonesia): Rp3.900 (Turun -2,50%)
- BBRI (Bank Rakyat Indonesia): Rp3.420 (Turun -2,01%)
- BMRI (Bank Mandiri): Rp4.760 (Turun -1,65%).
Selain perbankan, raksasa telekomunikasi TLKM (Telkom Indonesia) mencatatkan penurunan signifikan sebesar -3,79% ke level 3.050, yang turut menyumbang beban besar bagi indeks.
RLCO Melawan Arus, BUMI Stagnan
Di tengah "banjir merah" yang melanda bursa, saham RLCO (Abadi Lestari Indonesia Tbk) justru tampil impresif dengan penguatan +4,19% ke level 5.600. Sementara itu, saham sejuta umat BUMI terpantau bergerak stagnan di level 214 tanpa perubahan berarti.
Outlook Pasar
Penutupan perdagangan di hari Sabtu ini (karena penyesuaian hari libur) menunjukkan bahwa investor cenderung melakukan aksi ambil untung (profit taking) atau bersikap defensif menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Nilai transaksi harian yang mencapai Rp11,77 Triliun menunjukkan likuiditas pasar yang masih cukup cair meskipun didominasi oleh aksi jual. Para analis menyarankan investor untuk tetap waspada terhadap level support kuat di angka 7.000 pada pembukaan pasar minggu depan.